Berkunjung ke Bekasi.
Kami sekeluarga menuju ke Bekasi dan perjalanan ke sana macet, dua jam kemudian baru sampai tempat tujuan. Selama perjalanan, Kenzie dan Kak Hana sempat tertidur. Keduanya antusias juga saat melihat dede bayi yang dipanggil Awan. Tetapi berhubung keduanya sedang bapil (batuk dan pilek), sementara tidak boleh mendekat ke dek Awan, padahal keduanya ingin bisa memegang dan menciumnya.
Alhamdulillah, keduanya kooperatif dan kemudian bermain bersama. Saat dede mandi dan dipakaikan baju, keduanya setia melihat dan menungguinya. Saya kemudian membayangkan saat adek nya Kenzie lahir nanti, bagaimana sikapnya menghadapi bayi yang baru lahir, selama ini sebagian besar alhamdulillah kooperatif.
Bermalam di rumah dek Awan juga alhamdulillah tidak rewel. Paginya bangun dengan ceria dan kemudian bermain bersama dengan Kak Hana. Setelah sarapan, kami semua pamit untuk menuju Jakarta yang alhamdulillah tidak macet dan jarak tempuh hanya setengah jam. Sesampainya di rumah pakdhe, mereka langsung berlarian dengan energik. Padahal dari parkir menuju ke rumah pakdhe, kami harus menaiki tangga sampai lantai 4. Bagi saya, tiap lantai harus berhenti, tetapi berbeda kalau saat turun. Hehe.
Perjalanan berikutnya menuju ke Citayam, Bogor. Rencana kami, naik kereta listrik dari stasiun Tebet yang kebetulan dekat dengan kantornya pakdhe. Sebelum ke stasiun, kami ke rumah kakaknya mbah kung di Tebet.
Stasiun Tebet banyak berubah daripada saat saya terakhir ke sini. Proses masuk dan naik kereta juga berubah. Sedikit bingung dengan proses yang lebih maju saat ini, kartu tiket di tempel ke pintu masuk baru bisa masuk, seperti di stasiun luar negeri yang pernah saya lihat di televisi. Hehe. Sedangkan Kenzie ingin mandiri menempelkannya, dan marah saat dibantu. Saya baru menyadari bahwa tanpa menempelkan kartu Kenzie pun masih bisa lewat, tetapi saya tidak begitu memperhatikan nya. Dan melihat Kenzie senang melalui proses ini, saya pun sudah senang.
Menunggu kereta datang, Kenzie berlarian dan melompat sana sini membuat mbah khawatir, takut Kenzie jatuh ke bawah peron yang berbatu dan tempat rel berada. Saat berada di dalam kereta pun Kenzie kembali beraksi. Kesana kemari membuat mbah khawatir lagi. Setiap pemberhentian stasiun, ada suara yang memberitahu stasiun mana akan berhenti, rupanya Kenzie mendengarkannya dan akan menirukan kata stasiun nya saja. Hehe.
Sesampainya di stasiun Citayam yang ternyata juga berubah total, sempat membuat saya kebingungan di mana letak pintu keluarnya. Untung ada mbah kung yang memperhatikan orang-orang turun dan menuju kemana. Sama seperti pintu masuk stasiun Tebet, disini juga harus menempelkan kartu tiket di pintu keluar. Begitu keluar, saya mengembalikan tiket dan mendapatkan kembali uang jaminan per orang 10.000 rupiah. Ternyata ada sistem jaminannya, sedangkan harga tiket nya hanya 4.000 rupiah per orang. Awalnya saya kira harga tiket 14.000 rupiah per orang.
Kami menginap semalam di Citayam dan merasa Kenzie juga nyaman di sini. Bermain dengan kedua sepupu yang kebetulan perempuan semua. Kakak yang kuliah dan adek yang SMP tidak membuat Kenzie canggung untuk bermain bersama. Siang hari, kami lanjutkan perjalanan ke Sragen dengan menggunakan bus selama kurang lebih 15 jam. Alhamdulillah, selama itu Kenzie bisa anteng dan tidak rewel. Ada saja polahnya, mulai dari bermain selimut, pindah kursi satu ke kursi yang lain, bermain sebentar dengan adek kecil sesama penumpang, bolak-balik ke toilet dan akhirnya bisa tidur sampai akhir perjalanan.
#tantangan_hari_ke 10
#kelasbunsayiip3
#game_level_3
#kami_bisa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar